Ketika Rei Sudah Tidak Lagi Dibutuhkan beritahu rekan anda via E-mail
Ditulis Oleh R.G.S.   
Indeks Artikel
Ketika Rei Sudah Tidak Lagi Dibutuhkan
Halaman 2

Rei tetap harus diberikan kepada setiap orang dalam berpasangan [interaksi] walaupun kita tidak menyukai pasangan berlatih... dampak positifnya hal ini akan menciptakan aikido-ka yg low-profile walau dia telah mencapai tingkat yang tinggi sekalipun, karena penghormatan dengan cara rei harus tetap diberikan kepada senior maupun junior ataupun anggota baru sekalipun.  

Dengan memupuk kedisiplinan rei sejak dini, maka pemberian rasa hormat akan tidak "menjadi-mahal atau bukan barang import" dan keharmonisan akan sangat mudah tercipta. Sebaliknya, ketika penghormatan melalui sikap rei ini sudah sering diabaikan, sesungguhnya sikap ini akan menciptakan sikap :

  1. "Mencoreng" kehormatan pribadi dari orang yang mengabaikan rei itu sendiri ; yang berdampak lebih lanjut, yaitu
  2. si-pelaku akan pula meremehkan teknik atau gerak yang dilakukannya sendiri [sehingga teknik yang dilakukan tidak berkualitas / berbobot], dengan dampak luas, yaitu
  3. Lahirnya sikap ketiadaan penghormatan terhadap pasangan berlatih [seperti mengunci sekenanya saja, membanting se-enaknya saja tanpa memikirkan kehati-hatian dan keselamatan si-uke atau pasangan berlatih.
  4. Dampak ekstrim dari ketiadaan rei, maka orang ini sangat mudah menghina atau menyalahkan teknik sesama aikido-ka baik kepada yg junior maupun kepada yg senior... dan cepat tersinggung apabila mendapat koreksi ketika berlatih.
  5. eberhasilan mengabaikan rei dalam kehidupan sehari-hari akan muncul kegemaran "menggosip, mencemooh, menghakimi" seseorang telah berperilaku salah sesuai takaran pemikirannya sendiri.....  

Jadi... Apa sih ukuran REI yang harus kita perhatikan ?

Jawaban ini bisa beraneka ragam, saya mencoba menyimpulkan ukuran rei dengan penuh kesalahan disana-sini, yang mungkin masih memerlukan koreksi dari rekan sejawat aikido baik yg senior maupun yang junior..... antara lain :

  1. Adanya makna permohonan [meminta] kepada teman agar berkenan untuk berpasangan.
  2. Permohonan ini lahir dari hati yang mendalam dan penuh komitment atau sungguh-sungguh seperti : "saya memohon kepada anda agar berkenan berlatih dengan saya"....
  3. Kesungguhan hati dan komitment ini diwujudkan atau diajukan [diminta] dengan segala kerendahan hati, hal ini diwujudkan dalam posisi duduk [rendah] dan kemudian disertai dengan sikap menunduk....
Ketika ketiga unsur ini benar-benar kita lakukan, niscaya "kesejukan" berpasangan akan dapat dirasakan oleh pasangan berlatih kita, ketika kita melakukan teknik sekeras atau secepat apapun, karena suatu teknik yang diawali dengan sikap rei yang benar, biasanya tidak akan menciptakan cidera atau timbulnya rasa sakit yang tidak perlu bagi rekan/teman berlatih. Sikap/perilaku seorang aikidoka yang baik bukan diukur dari adanya kemampuan teknik yang baik, punya banyak murid yang banyak, bisa berceloteh sana-sini mengenai aikido. Seorang Aikidoka yang baik terukur dari sikap rasa saling menghormati terhadap sesama manusia, dan rasa menghormati terhadap teknik Aikido itu sendiri...... dan sebagai penutup, apakah kita masih memerlukan rei atau tidak, itu adalah pilihan anda sendiri apakah anda akan menghormat diri sendiri dan orang lain atau tidak? Selamat berdiskusi, jika tulisan ini kurang berkenan, mohon kritisi dan saran. [rgs].
 
***

Dipublikasikan melalui : Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Dari alamat email : Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Sent: Tuesday, November 13, 2007 12:20 PM
Subject : Ketika Rei sudah tidak lagi dibutuhkan  

 



 
< Sebelumnya   Berikutnya >