Beranda arrow Tulisan / Kirim arrow Opini arrow Ketika Rei Sudah Tidak Lagi Dibutuhkan
Ketika Rei Sudah Tidak Lagi Dibutuhkan beritahu rekan anda via E-mail
Ditulis Oleh R.G.S.   
Indeks Artikel
Ketika Rei Sudah Tidak Lagi Dibutuhkan
Halaman 2
 
Subjek judul tadi sekilas lewat di pikiran saya, yang langsung bertanya apa jadinya ketika Rei sudah tidak lagi diperlukan? Ketika seseorang akan memasuki dojo [ruangan berlatih] biasanya orang ini dalam posisi berdiri akan menundukkan setengah badan dan memberikan hormat. Demikian pula ketika ia akan masuk ke tatami, akan memulai berpasangan untuk berlatihan, juga setelah selesai berpasangan, mereka akan melakukan Rei dalam posisi seiza [duduk / ala Jepang ; baca : cara Aikido]. Begitu pula ketika seorang instruktur yang memanggil muridnya untuk maju ke depan, ketika akan memberikan contoh teknik, si-instruktur [guru] akan memulai terlebih dahulu dengan rei dalam posisi seiza, dan setelah si-instruktur selesai memberikan contoh, dia akan menutup dengan rei dalam posisi seiza kembali. Sadar atau tidak sadar, sesungguhnya gerakan terbanyak ketika kita latihan didojo adalah gerakan REI yaitu gerakan memberikan penghormatan dengan menunduk dalam posisi seiza atau duduk, coba deh amati dan hitung berapa kali anda melakukan rei dibanding melakukan teknik ketika di dojo.
 
Jika kita renungkan apa sih makna rei menurut pemahaman sehari-hari ketika berlatih Aikido? Rei adalah suatu bentuk penghormatan, permohonan, permintaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dari hati yang tulus dan penuh komitment dari si-pelaku REI kepada orang lain [teman pasangan berlatih, baik terhadap pasangan junior, senior, maupun kepada instruktur ataupun shihan sekalipun.

Sikap Rei bisa juga implementasi pemberian sikap hormat kepada dojo tempat berlatih... pengertian ini bukan dalam makna religius yaitu untuk mendewakan atau menganggap tempat yg sakral atau kudus..... karena menurut saya adalah logis apabila kita menghormati suatu tempat, misalkan dojo, ruang kerja, kamar mandi, tempat tidur, maka jika kita hormati dan memperlakukan / merawat dengan cara yang baik, maka "tempat" itu akan memberikan respon positif pula kepada kita yang menggunakannya.

Di Aikido itu sendiri makna Rei menuntut kepada pelakunya untuk memberikan penghormatan kepada Alam Semesta [Universe] dan sesama manusia, tapi saya belum sanggup membahas dalam ruang lingkup ini, jadi agar ulasan tidak semakin berantakan, karena perlu ruang lingkup pembahasan, maka saya batasi saja makna rei hanya terhadap sesama Aikidoka saja.

Dalam praktek sekarang, makna rei sudah mengalami kemunduran, yaitu terlihat dari adanya sikap rei yang dilakukan asal-asalan atau setengah hati, seperti rei yang dilakukan sekedarnya saja yaitu :

  1. Kedua orang yg berpasangan dilakukan dalam posisi berdiri, lalu membungkukkan badan dengan asal menunduk & memberi hormat sambil mengucap onengashimas asal-asalan.... atau ekstrimnya.
  2. Salah satu melakukan rei dalam posisi seiza dan pasangan lain memberikan rei [hormat] dalam posisi berdiri... nah seru kan.. terlihat seperti seseorang yang menyembah kepada orang lain.

Posisi rei seperti ini adalah salah, karena sebaiknya rei dilakukan oleh 2 orang dalam posisi seiza [duduk]. Kegunaan kita berdisiplin melakukan sikap rei, akan menciptakan profile manusia yang senantiasa & selalu berkenan memberikan hormat yang mendalam kepada orang lain, dengan penuh ketulusan hati dan penuh komitment.... baik terhdap sesama aikidoka ataupun dalam kehidupan interaksi sosial sehari-hari.  



 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Website Links

Advertisement
Advertisement