| Balada Katak |
|
Halaman 1 dari 2 Seminar Aikido dengan narasumber seorang Shihan, bagi sebagian praktisi aikido adalah hal biasa-biasa saja. Sebagian yang lain; apatis. Sisanya, peristiwa yang luar biasa. Di suatu kesempatan, saya menghadiri seminar aikido di Jakarta. Narasumbernya adalah praktisi aikido dari Amerika; Donovan Waite Shihan (Dan 7); murid Yoshimitsu Yamada (Dan 8). Seminar ini kebanyakan dihadiri oleh praktisi aikido Jakarta, dari luar daerah seperti Bali, Yogyakarta, Solo, bahkan peserta dari negeri Jiran; Singapura. Seminar berjalan baik selama dua hari, dimana pada setiap hari dibagi dua sesi latihan; tehnik tangan kosong dan senjata. Panitia tampaknya cukup memperhatikan dan mengantisipasi banyak aspek kelancaran seminar, sehingga seminar bisa dikatakan sukses. Antusiasme peserta nampaknya berbeda-beda. Sebagian praktisi nampak sudah terlalu biasa saja untuk mengikuti seminar. Maklum, sudah terlalu banyak mengikuti kegiatan serupa. Dari obrolan ringan di sela-sela latihan, seorang rekan berkata bahwa dia bahkan sudah lupa gerakan-gerakan yang pernah diajarkan para sihan yang pernah datang ke Indonesia untuk memberi sesi latihan singkat dalam seminar; saking banyaknya kesempatan yang pernah ia lewati dalam seminar serupa. Ya, biasa khan, beda sihan beda style. mana mungkin bisa mengingat semua style yang berbeda-beda sebagai satu sistem pembelajaran yang kontinyu, kalau ketemu setiap sihan yang berbeda hanya satu atau dua hari di setiap seminar yang berbeda, di waktu dan tempat yang berbeda pula.
Bagi saya, praktisi aikido di daerah, datang ke suatu seminar semacam ini adalah kesempatan yang jarang terjadi. Hambatannya klise; waktu luang dan jarak tempuh. Kegiatan seminar seperti ini seringkali diadakan di kota seperti Jakarta, atau kemudian Bandung, sehingga untuk bisa menghadirinya adalah perjuangan tersendiri.
Ada nilai tersendiri bagi orang seperti saya ketika menghadiri seminar semacam ini; sebagaimana sebagian praktisi lainnya; saya ingin menambah ilmu, plus kesulitan untuk bisa mengikuti kesempatan seperti itu, sama dengan sesuatu "bernilai besar". Kesenangan yang saya rasakan adalah, bahwa setiap kali ikut seminar seperti ini, saya selalu ditampar kenyataan; saya adalah katak dalam tempurung.
Ketika seorang praktisi belajar tehnik aikido dalam hitungan tahun, hasilnya adalah sekumpulan tehnik-tehnik yang secara kontinyu dilatih, dan menjadi mapan. Jika anda kemudian menjalankan dojo anda, anda akan mengajarkan kemapanan tehnik yang telah anda miliki kepada para siswa anda.Tentu saja tehnik anda lalu menjadi acuan para siswa.
Ketika bertemu banyak praktisi tingkat tinggi dalam pelbagai seminar, pelbagai kemapanan hancur. Anda akan menjumpai tehnik yang serupa, namun dengan efektifitas yang lebih tinggi.
Saya merasa senang ketika bertemu seorang praktisi Aikido Singapura; Mr. Charlie Lim. Dia murah senyum dan "murah ilmu". Saya dibikin pontang-panting ketika latihan dengan menjadi uke-nya. Dia memberi beberapa tips, dan berlimpah senyum. Oke, walau saya keki, karena banyak tehnik saya tidak masuk ketika dia menjadi uke saya, tetapi ia berbagi ilmu.
|
||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|