Beranda arrow Tulisan / Kirim arrow Opini arrow Arigato !
Arigato ! beritahu rekan anda via E-mail
Ditulis Oleh B.A.   
lmu adalah serangkaian entitas informasi yang berhasil diserap seseorang. Orang menjadi tahu. Saat orang telah tahu, ilmu bisa diamalkan dalam bentuk tindakan; jika mau, atau kalau mau; dibiarkan saja dibenak -- mungkin sampai terlupakan seperti barang usang.

Saya terinspirasi menulis hal ini karena obrolan ringan dengan seorang rekan. Di suatu pagi, saya, istri saya, dan rekan saya dan seorang kenalan lain menikmati sarapan pagi di kaki lima di sebuah kota di Jawa Timur. Rupanya sang rekan tidak mau mengambil resiko untuk saya traktir, sehingga ia mendahului saya untuk membayar makan pagi kami  berempat. Setelah dia bayar, tak lupa dia berkata kepada si ibu warung,"Terima kasih ya Bu." Lalu kami berjalan menyusuri jalanan dan dia berkata,"Kita ini kadang susah untuk bilang terima kasih. Hal yang sepele dan sebenarnya mudah dilakukan. Di aikido kan kita sering bilang arigato (terma kasih) sesudah latihan sama temen. Bagi saya, itu sesuatu yang baik dan seharusnya dilakukan juga di keseharian. Betul, nggak pak?"

Saya tersenyum mengiyakan, dan saya tertohok :-)
Sebenarnya, semenjak kecil, saya sudah diajari oleh lingkungan saya untuk bilang terima kasih kepada siapapun yang memberi kemudahan kepada saya. Tetapi begitu saya beranjak dewasa, merasa mampu berdikari, kadang saya berfikir semua yang saya dapatkan adalah karena saya melakukan usaha saya sendiri dan tidak tergantung orang lain. Kadang saya tidak merasa perlu bilang terima kasih ketika saya membeli sesuatu, toh saya bayar dengan uang keringat saya sendiri. Orang punya barang, dan saya punya uang. Then, it's done.

Whatever, mengucapkan terimakasih adalah sebuah ilmu yang luar biasa. Dan untuk mengamalkannya adalah sebuah pilihan nurani.

Peristiwa itu membuat saya merenung, betapa banyak informasi baik yang pernah masuk ke benak saya dan menjadi ilmu, tetapi tidak saya lakukan. Betapa saya menegor orang yang usai berlatih aikido untuk mengucapkan arigato, tetapi dalam kehidupan keseharian di luar dojo saya melupakannya.

Lalu saya pun berfikir jauh, betapa dojo, kadang menjadi tempat omong kosong, tanpa dimaknai lebih luas di luar dojo. Ide tentang perdamaian (bu), keselarasan (ai), senioritas (sempai-kohei), kerendahan hati (shoshin), berpadu {ki-no-awase), tidak melawan (non-resistance) seperti hanya terdengar di dalam dojo. Tapi terlupakan di kehidupan sehari-hari.

Obrolan si rekan itu menyadarkan saya betapa saya selama ini hanya "berolah-raga" aikido saja. Saya mengumpulkan (ilmu) informasi sebanyak-banyaknya tentang aikido, tetapi hanya sedikit yang merubah perilaku saya dalam bentuk tindakan (amal). Betapa jauhnya saya dengan esensi Budo yang dijadikan jalan untuk mencari pencerahan oleh Morihei Ueshiba, Masutatsu Oyama, Mushashi, Doshin So, atau Gichin Funakosi.

Terima Kasih atas sarapan paginya rekan ! Kini saya " kembali normal "
 
< Sebelumnya

Website Links

Advertisement
Advertisement