Aikido: Persepi, Teori ,dan Praktik beritahu rekan anda via E-mail
Ditulis Oleh B.A.   
Indeks Artikel
Aikido: Persepi, Teori ,dan Praktik
Halaman 2
Halaman 3

Aneh rasanya jika suatu hari anda melihat seseorang dengan pakaian renang, naik busway, menuju ke kantor. Atau, anda memakai baju olah raga untuk menghadiri jamuan makan resmi.

Kepantasan adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Belajar aikido adalah juga belajar kepantasan.

Syahdan, seorang Fulan yang baru masuk aikido, sudah begitu gatal untuk menguji tehnik yang diajarkan senseinya, kepada rekannya, bahkan kepada senseinya sendiri. Rekan-rekannya merasa stres karena jika berpasangan dengan Fulan, waza sering tidak bisa masuk, karena Fulan melawan. Jika Fulan melakukan tehnik, dia terlalu ambisius sehingga membuat rekannya kadang kesakitan.

Fulan sering dimarahi sensei-nya. Dia seringkali balik bertanya," Sensei, kalau latihannya seperti orang menari, apa aikido bisa bekerja ketika menghadapi situasi nyata?" Sang sensei gemas, berulang-ulang dia menekankan bahwa dojo bukan tempat untuk kontes kekuatan. Sang sensei dengan tegas akhirnya mempersilahkan si Fulan untuk keluar dojo dan belajar bela diri yang lebih cocok dengan kebutuhannya.

Salahkah si Fulan?


Bagi sudut pandang Fulan, dia mencari sesuatu yang instan. Sesuatu yang dibutuhkannya.
Bagi sensei-nya si Fulan, hilang seorang Fulan akan lebih baik supaya tidak merusak suasana belajar mengajar di dojo. Fulan mempunyai kualitas dan sikap mental yang tidak sesuai dengan iklim berlatih Aikido. Meskipun belum tentu buruk bagi dirinya. 
 
***
 
Aikido, bergantung dilihat dari sisi sebelah mana, adalah satu entitas realitas dengan interpretasi yang bisa berbeda-beda. Sama seperti sekeping mata uang dengan dua sisi.

Aikido, bergantung anda masuk di realitas mana, adalah ilmu dan pengetahuan. ilmu adalah informasi yang anda masukkan dalam diri anda, sedangkan pengetahuan adalah ilmu yang anda dapatkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan anda.

Singkatnya, Aikido adalah teori dan praktik.

Jika aikidoka belum memiliki batasan persepsi yang jelas antara apa yang ada dalam teori dan apa yang ada dalam praktik, maka perdebatan antara apakah aikido itu memang benar bisa dipakai sebagai bela diri, kapan aikido benar-benar bekerja, atau perlukah aikido dipakai di realitas nyata akan menjadi perdebatan panjang yang hangat. Persepsi akan mempengaruhi seorang aikidoka dalam bersikap dan berperilaku; baik di dojo atau di kehidupan sehari-hari.

Jika kebanyakan bela diri lain memiliki sarana uji relatif untuk mengetahui apakah tehnik-tehnik bela diri tersebut bekerja atau tidak; dalam bentuk pertandingan, sebaliknya aikido melarang semua bentuk kompetisi.

Tentusaja, anda tidak harus menantang orang berkelahi untuk menguji aikido anda pada taraf praktis, mengingat filosofi aikido yang dipakai sebagai bela diri defensif dan lebih menekankan pengendalian diri. Dan tentu saja, dojo bukan tempat yang sesuai untuk menguji kemampuan praktis tehnik aikido.

Pertanyannya sekarang, apakah secara praktik, aikido hanya akan lestari di dojo?

Hal berikut ini, setidaknya bisa membantu memahami realitas sebuah bela diri secara umum. Realitas seni bela diri bisa dibagi menjadi tiga sudut pandang:

1. Realitas seni bela diri (aikido) dalam dojo (padepokan, tempat latihan, perguruan)
2. Realitas seni bela diri dalam pertandingan
3. Realitas terapan ilmu bela diri (aikido) untuk menjawab kebutuhan pembelaan diri secara nyata.

Ketiga jenis realitas seni bela diri ini mempunyai ciri khas, karakter dan aturan main tersendiri di dalamnya. Dalam aikido, realitas pertandingan adalah perkecualian, karena semua aliran aikido kecuali aliran Tomiki menolak kompetisi pertandingan.


 
< Sebelumnya   Berikutnya >