| Aikido: Persepi, Teori ,dan Praktik |
|
| Ditulis Oleh B.A. | |||||||||||||||||||||||||
Halaman 3 dari 3
3. Realitas ilmu bela diri (aikido) dalam taraf terapan Serangan yang sesungguhnya, ada dalam situasi nyata diluar realitas dojo dan pertandingan. Secara tehnik, baik jenis serangan maupun strategi netralisasi serangan, kemungkinan- kemungkinannya sama sekali tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Motivasi serangan bukan lagi untuk mencari angka atau kemenangan, namun merusak.Serangan kadang dijadikan alat untuk pemaksaan kehendak penyerang kepada target serangnya. Tolok ukur keberhasilan serangan bukan piala, namun seberapa jauh motivasi serangan terpenuhi. Perampok akan terpenuhi motivasi penyerangannya jika barang yang diinginkan termiliki. Seseorang yang menyerang karena balas dendam tertentu akan terpenuhi motif penyerangannya jika ia berhasil merusak target serangnya. Semakin besar daya rusaknya, maka semakin tujuan pengrusakan lewat serangan ini di rasa berhasil oleh penyerang. Di sinilah ilmu bela diri benar-benar dibutuhkan andilnya. Ilmu yang telah dipelajari dalam dojo harus bisa bekerja untuk menyelamatkan diri. Naluri untuk bertahan hidup di sini akan besar sekali. Idealisme eksekusi tehnik bela diri secara fisik mungkin akan berbeda antara realitas bela diri terapan dan realitas bela diri dalam dojo. Realitas bela diri terapan yang dimaksud di sini adalah semudah membayangkan bila anda keluar dari bank dengan segepok uang dalam tas anda dan anda dirampok orang.
|
|||||||||||||||||||||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|