Beranda
Aikido; Opini di Penghujung fajar beritahu rekan anda via E-mail
Aikido bagi saya, kurang atau lebihnya, adalah seni untuk memahami entitas energi. Energi bisa terdapat dalam unit apapun di alam dan kehidupan sehari-hari. Makhluk hidup, benda, mesin. Bahkan sesuatu yang bersifat mental; emosi, perasaan, kekuatan politik, perjanjian, hukum, norma, budaya, seni.
 
Dalam konteks fisik, dojo, latihan, praktik; aikido adalah seni memahami kekuatan energi penyerang, yakni tentang dari mana kekuatan dibangkitkan, disalurkan melalui mekanisme tubuh penyerang, lalu disampaikan kepada target serangan. Secara prinsipil; serangan adalah perpindahan energi yang disalurkan ke target perpindahan energi; dengan tujuan negatif. Energi bisa berpindah tempat melaui mekanisme biologis dari tubuh dan anggota tubuh pemilik energi; penyerang. Energi serangan lalu menemui titik kontak fisik dengan target serangan; lalu terjadi tubrukan energi. Akibat dari tubrukan energi adalah kerusakan, dari skala terkecil hingga terbesar; dari sekedar cidera ringan hingga kematian. 
 
Bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh tahun, praktisi aikido secara tehnik berlatih untuk memahami hal tersebut. Sebagian berkutat pada “bentuk” tehnik, sebagian lebih maju mengekplorasi “konsep” dan “strategi”, sebagian kecil mencapai tahap “pemecahan masalah” dengan cara “yang lebih baik” dan manusiawi.
 
Secara konsep dan strategi, bela diri aikido terbagi menjadi tiga bagian. Bertemu kontak dengan energi serangan, meruntuhkan keseimbangan, dan akhirnya melakukan tehnik bela diri. Konsep dan strategi ini tentu ditopang oleh pondasi tehnis lain yang sangat penting. Seperti kuda-kuda, jarak, kewaspadaan, gerak dasar, jurus dasar, dan lain-lain.
 
Ketika seorang praktisi telah begitu “maju” dalam hal teknis, dimana bela diri aikido adalah semudah hatinya berkehendak, maka akhirnya, aikido adalah masalah hati. Lalu tiba-tiba energi utama pembelaan diri adalah kondisi hati; kondisi batin. Terbukalah suatu tabir bahwa penyerangan bermula dari hati, maka pembelaan diri juga seyogyanya adalah dari hati. Dari pemahaman energi secara fisik, beralih menjadi pemahaman energi secara mental; atau bahkan secara metafisika.
 
Seorang praktisi lalu menjadi orang yang lebih “bijaksana” dibanding sekian puluh tahun yang lalu ketika ia baru saja mengenal aikido. Dari si muda yang hatinya penuh terisi dengan ambisi akan kekuatan dan penaklukan, hingga menjadi si renta “sakti” yang hatinya penuh mahfum, dengan segalanya telah digenggam di tangan. Lalu, si praktisi, betapapun tinggi gunung telah di dakinya, betapapun jalan panjang telah dilewatinya melebihi siapapun, meninggal.
 
Selebihnya, siapa yang tahu. Karena alam sesudah kematian bukanlah jangkauan aikido.
 
Aikido – jalan keselarasan: dari tiada, menjadi ada, lalu tiada kembali….
 
Maka akhirnya, keselarasan sejati adalah milik Sang Pencipta.
Ketika Sang Pencipta Berkata kepada ciptaan: “Datanglah kepada Ku, dengan sukarela atau terpaksa.”
Maka jawaban seluruh semesta adalah: “Kami datang dengan suka rela ya Tuhanku.”
 
(B.A.)
 
Berikutnya >

Website Links

Sekilas Info

Berikut ini adalah peserta ujian yudansha Indonesia Aikikai 2009 yang dinyatakan lulus ujian oleh Hiroshi Fujimaki Shihan (Dan 6), yang diadakan di hall basket Senayan Trade Center, Jakarta, pada tanggal 21 Februari 2009:

Shodan

  1. Kerry (dojo Slipi, Jakarta Barat)
  2. Adhi Wahyu Utama (dojo Kiku no Hana, Jakarta Selatan)
  3. Intan Dwianna (dojo Kiku no Hana, Jakarta Selatan)
  4. Arthur Sugiarto Prajogo (dojo Kiku no Hana, Jakarta Selatan)
  5. Teddy Arifandi (dojo Kiku no Hana, Jakarta Selatan)
  6. Wahyu Eko (dojo Kiku no Hana, Jakarta Selatan)
  7. Rudy Halim (dojo Sakura, Jakarta Selatan)
  8. Komar Setiawan (dojo Aikikenkyukai Sportmal, Jakarta Utara)
  9. Leonardi Ardiansyah N (dojo Aikikenkyukai Sportmal, Jakarta Utara)
  10. Stiven Pratama (dojo Sei Bu Mon, Jakarta Utara)
  11. Achmad Moesadad Shatrie (dojo Aikikenkyukai Sukasari, Bogor)
  12. Wawan Abdullah (dojo Aikikenkyukai Tenkei Universitas Indonesia, Depok)
  13. Budiwan Jihadillah (dojo Samina, Depok)
  14. Radityo Soenarto (dojo Samina, Depok)
  15. Caroline Dwi Lestari (dojo Tenchi, Tangerang)
  16. Arifin Wijaya (dojo Bandung Aikido Club, Bandung)
  17. Ferry Heryawan (dojo Bandung Aikido Club, Bandung)
  18. Hector Aguilera (dojo Batununggal Indah Club, Bandung)
  19. Gautama (dojo Mpu Tantular, Semarang)
  20. Makarim Suryo Broto (dojo Shoshin, Solo)
  21. Andi Tri Widodo (dojo Shoshin, Solo)
  22. Agustinus Yohan Kristian (dojo Shizen, Malang)

Langganan Info

Info Indonesia Aikikai


Terima HTML?
Bergabung untuk menerima info reguler dari YIA

Saat ini ada 26 tamu online

Kunjungan