| Polisi Militer AURI Peragakan Aikido |
|
|
Kesempatan dan waktu yang tepat ! Sebuah ungkapan atas sesuatu yang tak ternilai harganya. Tanggal 1 November 2007, mungkin hari yang bersifat rutin bagi Korps Polisi Militer AURI di seluruh Indonesia. Di setiap pangkalan AURI di seluruh Indonesia, 1 November diperingati sebagai hari jadi POM AURI, dan dihormati dengan upacara kemiliteran. Aikido mendapat perhatian khusus pada HUT POM AURI KE 61, di pangkalan AURI Adi Sumarmo, Solo. Upacara peringatan Hari Jadi POM AURI dimeriahkan dengan peragaan aikido oleh siswa SKADIK 405 POM.
Hal yang menarik, peragaan aikido yang mereka tampilkan tidak memakai matras, melainkan langsung di lapangan rumput, beserta dengan pakaian harian kemiliteran.
Dalam acara peragaan aikido tersebut turut juga diundang peraga aikido
dari dojo Assalaam Training Center - Solo. Karena bukan tentara yang
biasa jatuh bangun dilapangan, para peraga ini tetap memakai matras dan
dogi standar.
Kegiatan peragaan
aikido ini disambut antusias oleh para pejabat POM, diantaranya Mayor
POM Bambang Suseno; Komandan SKADIK 405 POM AURI, Letkol Pen. Basuki;
Komandan SKADIK 401 AURI, dan Lettu Dicky Millano; Kasi Pam SatPOM AURI.
Diharapkan, momen ini bisa menjadi pencitraan positif aikido di Solo
untuk lebih dikenal di masyarakat, sebagai bela diri defensif yang juga
diaplikasi oleh militer.
Polisi Militer melaksanakan tanggungjawab tugas yang berat dan beresiko tinggi dikarenakan posisinya sebagai polisinya tentara, bukan orang sipil. Jika tugas menuntut, terkadang seorang polisi militer harus menahan seorang tentara, atau perwira desersi. Kalau si tentara desersi ini melawan, tentu bisa berbahaya dan beresiko tinggi, karena tentara memiliki peralatan senjata standar seperti pisau bayonet, senjata api genggam atau laras panjang. Seorang polisi militer perlu melakukan antisipasi dan waspada untuk menahan seorang tentara yang desersi. Resikonya, alih-alih si tentara menyerah, bisa saja tentara desersi melawan dengan senjata. SKADIK 405 Polisi Militer AURI adalah lembaga militer AURI yang mendidik para siswa yang berasal dari pasukan biasa AURI, untuk menghasilkan para polisi militer yang siap di tugaskan diseluruh pangkalan AURI di Indonesia. Melalui inisiatif Sertu POM Mashudi, salah seorang dosen SKADIK 405, dan atas ijin Komandan SKADIK 405; Mayor POM Bambang suseno, SKADIK 405 memberikan pelatihan aikido sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
Pihak SKADIK 405 mengundang instruktur aikido dari Assalaam Training
Center Solo untuk mengajar tehnik aikido aplikatif
kepada siswa pendidikan Polisi Militer. Pihak SKADIK 405 sendiri,
melalui Sertu Mashudi dan perwira lainnya, mengawasi dan turut membantu
berjalannya latihan aikido yang dilaksanakan dari pukul 4 hingga 6 sore
setiap hari senin dan jumat.
Setiap satu angkatan siswa pendidikan Polisi Militer yang biasanya
terdiri dari 50 hingga 70 siswa menjalani masa pendidikan selama enam
bulan. Hingga saat berita ini diturunkan, ditahun 2007, telah ada dua
angkatan siswa yang mendapatkan pelatihan aikido praktis ini dalam
kurun dua semester akademik. Karena singkatnya masa pendidikan, maka
instruktur aikido tidak memberikan materi tehnik kihon (dasar) seperti
yang biasa diajarkan di tempat latihan aikido reguler, melainkan
memberikan pengetahuan dan ketrampilan bela diri yang siap pakai. Para
siswa mempelajari tehnik aikido aplikatif aikido untuk menghadapi
serangan seperti pukulan, senjata tajam, todongan senjata api dan
pelumpuhan target penangkapan.
Dalam pelaksanaan latihan, instruktur aikido dan pengelola SKADIK 405
berpendapat bahwa ketrampilan aikido yang dipelajari para siswa Polisi
Militer haruslah benar-benar bisa diterapkan dalam situasi nyata. Oleh
karena itu, para siswa belajar tehnik aikido dengan tanpa matras dan
dengan menggunakan seragam tentara lengkap dengan sepatu dan senjata
standar; bayonet.
Para siswa dalam waktu yang singkat harus belajar jatuhan dan lemparan
(ukemi) untuk menerima tehnik seperti sihonage, kotegaeshi, tembin
nage, di atas rumput ataupun jalan aspal. Mereka menggunakan tehnik
jatuhan aikido standar yang dimodifikasi untuk mengantisipasi cidera.
Pada awalnya, beberapa siswa terlihat ragu-ragu dan agak takut untuk
belajar jatuhan semacam itu. Namun mereka lebih takut pada atasan dan
komando militer. Dengan prakondisi semacam ini, keraguan bisa terhapus,
dan latihan berjalan lancar tanpa ada yang mengalami cidera. Untuk
urusan kondisi fisik dan keberanian, tentara memang harus dan sudah
teruji.
Para siswa ini tidak bisa mengikuti ujian kenaikan aikido standar, sebab mereka tidak mempelajari tehnik kihon standar Aikikai dan tidak terdaftar sebagai anggota resmi suatu organisasi formal aikido. Namun begitu, para siswa merasa senang berkesempatan mempelajari aikido praktis.(Solo - B.A.)
***
|
| < Sebelumnya |
|---|