| Jozef Poetiray dan Aikido |
|
(Bandar Lampung, 08/11/09 B.A.) "Jika bukan karena selangkah kaki, mungkin perjalanan seribu mil tak akan dimulai". Mungkin ini bisa mewakili bagaimana Yayasan Indonesia Aikikai (YIA) bisa berdiri dan berkembang hingga sekarang. Beberapa orang telah melangkahkan kakinya untuk memeras keringat menimba ilmu aikido, beberapa yang lain mencurahkan pikiran dan tenaga untuk pembentukan organisasi, dan kemudian beberapa generasi telah turut membesarkan YIA.
Jozef Izaak poetiray adalah salah satu dari mereka. Namanya tercatat sebagai salah satu dari para pendiri YIA. Mungkin tidak banyak orang tahu, bagaimana liku-liku hidup seorang Jozef Poetiray, yang sehari-harinya akrab di sapa dengan nama Pak Cok, sehingga dirinya menjadi sejarah yang tak terlepaskan dari perjalanan YIA.
indonesiaaikikai.com berkesempatan menemui Jozef Poetiray di sela-sela kegiatannya menguji penurunan kyu di O Hime dojo Bandar Lampung. Pemegang peringkat Dan 5 aikikai ini begitu antusias bercerita tentang sekelumit sejarah hidupnya, perjalanannya ke Jepang, bertemu dengan aikido dan berdirinya YIA. Meski usianya menjelang senja, namun semangat pria berusia 72 tahun ini masih berapi-api ketika bercerita tentang aikido. Berikut petikan wawancara antara indonesiaaikikai.com dengan Jozef Poetiray atau Pak Cok.
***
IA : Dari mana Pak Cok berasal? PC : Saya berasal dari Ambon, Maluku. Saya lahir pada tanggal 9 Oktober 1938 di sebuah rumah sakit tentara. IA : Bapak terlahir dari keluarga tentara? PC : Bukan. Bapak saya seorang dokter, kebetulan diperbantukan di rumah sakit militer. IA : Bagaimana kisah Bapak berangkat ke Jepang? PC : Dulu saya sekolah di STM Boedi Oetomo Jakarta, jurusan mesin. Pada waktu lulus, waktu itu memang banyak fasilitas beasiswa untuk sekolah ke luar negeri. Lalu berkat saran dan rekomendasi seorang pejabat militer, saya mendaftar di PTIP (Perguruan Tinggi Ilmu Pengetahuan). PTIP ini bagian dari Universitas Indonesia, di mana di sana ada program bea siswa untuk berangkat studi ke Jepang. IA : Boleh disebutkan nama pejabat yang memberi rekomendasi Bapak ke Jepang? PC : Jangan .... ha ha ha ... Jangan ... IA : Kapan Bapak berangkat ke Jepang? PC : Saya berangkat ke Jepang pada 11 Mei 1962. Saya berangkat ke Jepang menumpang JAL (Japan Air Line) setelah terlebih dulu transit di Singapore. Sampai di Jepang, saya ditempatkan di asrama bernama "Wisma Indonesia" yang berada di bawah naungan PTIP juga. IA : Di kota mana? PC : Di Tokyo. Di sana kita di didik selama satu tahun, terutama bahasa Jepang dan ilmu sosial lainnya. Setelah itu saya di uji. Karena saya suka bahasa Jepang, dan nilai bahasa Jepang dan pengetahuan tulisan kanji saya tinggi, lalu saya di tempatkan di universitas di Hiroshima. IA : Bapak mengambil jurusan apa? PC : Saya belajar listrik and elektronika dasar, setelah itu di tingkat dua saya memilih spesialisasi elektronika. IA : Bagimana Bapak tertarik dengan aikido? PC : Kawan-kawan saya banyak tertarik dengan bela diri. Ada yang ngambil Judo, Shorinji Kempo, Karate dan lain-lain. Ada Hadi, Subur, trus yang di kenal kan Sabet ya .... kalo di Indonesia anak-anak Karate pasti kenal Sabet Mukhsin .. lalu saya mengikuti Aikido. Saya pernah lihat aikido di televisi. Saya suka, gerakannya bagus, teori dan falsafahnya bagus. Saya cari-cari itu aikido. Kemudian saya lihat kebetulan di stasiun kereta api Jyugaoka ada informasi aikido, lalu saya mendaftar di Jyugaoka dojo, persis di belakang stasiun kereta api Jyugaoka dojo. Waktu itu tahun 1964. IA : Siapa sensei pertama Pak Cok? PC : Saya melamar ke dojo, lalu yang mencatat pendaftaran saya adalah Chiba sensei (Katzuo Chiba -- sekarang Dan 8 Aikikai) yang sekarang di Amerika. Terus, yang melatih saya pertama kali adalah Tada sensei (Hiroshi Tada Shihan - sekarang Dan 9 Aikikai). Jadi kalau dirunut, menurut saya aikidoka di Yayasan Indonesia Aikikai adalah turun temurun dari Tada sensei. IA : Saya pernah mendengar informasi Pak Cok pernah embukai di Tokyo? PC : O, begini, supaya bisa ikut aikido dulu saya minta pindah ke Tokyo dari Hiroshima, karena waktu itu di Hiroshima nggak ada aikido. Saya pindah ke Musashi Kogyo Daigaku atau Musashi Institue of Technology. Tada sensei bilang pada saya dan Kubota san (Ikuhiro Kubota Shihan - sekarang Dan 7 aikikai) untuk mengembangkan dojo di sekolah. Maka kami bikin peragaan di Wisma Indonesia. Lalu kita bikin klub aikido di situ. Kita latihan tiga hari seminggu, senin - rabu - jum'at, jam 8.00 hingga 10.00 malam. IA : Berapa lama Bapak belajar aikido di Jepang? PC : Saya belajar dari tahun 1964 hingga tahun 1969, karena saya pulang ke tanah air. Saya mendapatkan peringkat Dan 1, namun sepulang di tanah air saya masih berlatih aikido. IA : Apa yang Bapak lakukan sepulang ke tanah air? PC : Saya tetap berlatih aikido, namun ya, di seputar kawan-kawan aja yang tahu ... ada yang tertarik.. eh, aikido itu kayak mana ... ya kita latihan-latihan kasih lihat ke kawan-kawan. Lalu bersama Mansyur dan Bob (Mansyur Idham dan almarhum Achmad Mahbub) dan kawan lainnya kita bikin yayasan resmi . Baru setelah ada yayasan kita bisa berkembang. IA : Apakah Pak Cok satu angkatan dengan Pak Mansyur berangkat ke Jepang? PC : Memang kita satu angkatan. Kami masuk dalam angkatan ketiga yang berangkat ke Jepang tahun 1962. namun setelah belajar bahasa Jepang selama satu tahun, kami berpisah karena Mansyur di kirim ke provinsi Akita, belajar di Akita University. Dia belajar aikido juga di Akita. IA : Siapa shihan aikikai sekarang yang pernah satu angkatan belajar aikido dengan Pak Cok? PC : Kubota san (Ikuhiro Kubota Shihan). Dulu kawan di Jyugaoka, juga waktu di Musashi Kogyo Daigaku. Kubota san belajar arsitektur. Sekarang dia di tetap di aikikai dan tinggal di provinsi Nara. IA : Apa yang Pak Cok inginkan dari aikido sekarang ini? PC : Saya secara pribadi membawa amanat pesan Bung Karno kala itu, bahwa kami pergi belajar ke Jepang dan diamanatkan untuk membawa hal-hal yang baik untuk disebarkan ke tanah air. Aikido ini baik bagi pembentukan karakter. IA : Saya mendengar informasi bahwa Pak Cok diperbolehkan untuk menguji yudansha di Indonesia? PC : Ya, untuk setingkat Dan 5, diperbolehkan menguji yudansha dari Dan 1 sampai Dan 3. Namun jika tahun berikutnya ada yang ambil Dan 4, maka nanti akan juga diawasi oleh Kubota san (Dan 7). Saya merasa seharusnya begitu, karena tanpa ada kehadiran shihan dari Hombu, saya merasa ada sesuatu yang terputus. ***
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|