Beranda
Pencipta Aikido beritahu rekan anda via E-mail
Indeks Artikel
Pencipta Aikido
Halaman 2
Halaman 3
Halaman 4
Halaman 5
Halaman 6

Aikido
  
Istilah Aikido resmi di pergunakan pada tahun 1942 dan telah terdaftar pada Dai Nihon Butokukai serta Departemen Pendidikan Jepang. Aikido berarti "jalan" (Do) keselarasan (Ai) energi spiritual (Ki). Secara sederhana dan tehnis Aikido di artikan sebagai jalan koordinasi penyatuan antara jiwa dan raga
   
Perang yang berkecamuk bertambah besar. Ueshiba dengan keyakinannya akan jalan perdamaian sangatlah prihatin dengankeadaan ini. Meskipun Ia mempunyai kesetiaan yang tinggi terhadap Kaisar, namun Ia tidak menyukai agresi militer Jepang terhadap negara lain. Akhirnya Ia menarik diri dari dunia ramai dan menyerahkan segala urusan dojo Kobukan kepada anaknya, Kisshomaru. Ia pindah dari Tokyo ke Iwama, suatu tempat di distrik Ibaragi, dan Ueshiba menjalani kehidupan dengan bertani. Pertaniannya di Iwama diberi nama Aiki-En (pertanian Aiki). Ia juga membawa beberapa muridnya yang berbakat ke Iwama dan membuat
dojo di sana. Bertani dan berlatih Aikdo menjadi fokus kehidupan Ueshiba. Ia membangun pula sebuah kuil yang Ia beri nama Aiki-Jinja.
   
Bulan Agustus 1945, Jepang kalah perang ditandai dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menyerah tanpa syarat dan hal ini sangat memukul mental bangsa Jepang. Dibawah perjanjian militer Jepang harus mengikuti beberapa peraturan yang di tetapkan tentara sekutu terhadapnya yang salah satu diantaranya adalah diberlakukannya larangan untuk berlatih bela diri di seluruh Jepang. Larangan ini praktis membuat latihan di dojo Kobukan terhenti dan dipindahkan aktifitasnya ke Iwama, karena relatif tidak terpantau. Dojo induk (Hombu) akhirnya pindah ke Iwama.
   
Larangan tersebut dicabut pada tahun 1948 dan Kobukai Foundation yang telah mati didirikan lagi dengan nama Zaidan Hojin Aikikai yang sekarang menjadi Aikikai Foundation. Disamping latihan rutin di dojo Iwama, aktifitas aikido mulai hidup
kembali pada tahun 1949.
   
Pada awal tahun 50-an, aikido mulai berkembang ke dunia barat ketika Mochizuki memperkenalkan aikido ke Perancis dan Koichi Tohei ke Hawai, Amerika Serikat. Pada masa itu, aikido berkembang pesat sekali di dalam negeri Jepang sendiri.
   
Ketika organisasi aikido mulai membesar, Kisshomaru meninggalkan kerja paruh waktunya untuk berkonsentrasi mengelola dojo pusat yang di pindahkan lagi dari Iwama ke Tokyo. Dengan bimbingan Ueshiba yang masih aktif berlatih di Iwama, Kisshomaru membuat sistematika latihan aikido seperti yang ada sekarang dan mengelompokkan teknik-teknik aikido untuk diberi nama. (Hal ini disebabkan karena sebelumnya teknik aikido diajarkan tanpa nama). Ia kemudian mempublikasikan bukunya yang pertama yang berjudul Aikido pada tahun 1957 serta berpuluh-puluh buku tentang aikido yang diterbitkan dalam berbagai bahasa.
   
Era tahun 60-an merupakan tahun emas bagi Aikido. Teknik-teknik Ueshiba berkembang menjadi lebih lembut disamping keunikan teknik yang dimilikinya dengan ritual spiritual yang diyakininya. Perkembangan aikido di luar negeri makin meluas dan dikirimkanlah lebih banyak instruktur aikido ke Eropa dan Amerika.
   
Ketenaran aikido dan tujuannya mendapat perhatian khusus dari pemerintah Jepang. Pada tahun 1960 Morihei Ueshiba mendapatkan "Medali Kehormatan Pita Ungu" dan pada tahun 1964 Ia menerima penghargaan "Bintang kelas 4 Matahari Terbit" karena jasanya menciptakan Aikido.
   
Bertahun-tahun kemudian, Ueshiba aktif mengadakan peragaan bela diri atas permintaan dan dukungan beberapa sponsor. Pada tahun 1968, Kondisi kesehatan Ueshiba menurun. Namun begitu ia masih aktif berlatih aikido dan memberikan beberapa peragaan bela diri. Pada tanggal 15 Januari 1969, ketika umur Ueshiba mencapai 85 tahun, ia memberikan peragaan bela diri terakhir pada
perayaan tahun baru jepang (Kagami-Biraki). Peragaan tersebut di sponsori oleh Aikido Foundation. Walau dalam kondisi yang tidak sehat, Ueshiba memperagakan Tekemusu Aiki, yakni penciptaan tehnik yang tak terbatas, spontan, cepat dan mengalir.
   
Di awal musim semi tahun 1969, kondisi kesehatan Ueshiba menurun drastis dan masuk rumah sakit. Ia terserang kanker hati (Ueshiba sendiri, di seluruh masa hidupnya sering mengalami gangguan penyakit hati dan pencernaan).  Pada suatu saat Ueshiba berkata pada Kisshomaru," Waktuku telah tiba". Ia lalu minta dipulangkan ke rumahnya (dekat dengan dojonya). Pada tanggal 15 April 1969, kondisi Ueshiba semakin kritis. Para sanak keluarga, teman dan muridnya menjenguknya untuk yang terakhir kalinya, dan ia memberi petuah terakhirnya: "Aikido adalah untuk seluruh dunia. Berlatih aikido bukan untuk kepentingan ego pribadi, namun untuk kepentingan orang banyak di manapun tempatnya". Pada pagi hari tanggal 26 April 1969, Ueshiba meninggal dunia (dan dua bulan kemudian istrinya, Hatsu, menyusulnya).
   
Abu jenasah Ueshiba di kebumikan di kuil keluarga di Tanabe (sekarang Wakayama), beberapa lembar rambutnya diabadikan di Ayabe (di kuil Aiki) dan di dojo Kumano Juku. Upacara peringatan wafatnya Ueshiba biasa dilakukan pada setiap tanggal 29 April setiap tahun di kuil Aiki di Iwama.

***

Referensi:

   1. Ali Utomo, Bambang, Aikido: Seni Bela Diri dan Filosofi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001
   2. Stevens, John. Aikido, The Way of Harmony. Colorado: Shambala Publication Inc., 1984
   3. Stevens, John. The Essence of Aikido: Spiritual Teachings of Morihei Ueshiba. Tokyo: Kodansha International, 1993 



 

Website Links

Sekilas Info

aikido indonesia ketua YIA.jpg

Sambutan Ketua Umum Yayasan dan Perguruan Indonesia Aikikai 

Salam,

Dengan mengucap syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa pada hari ini situs Indonesia Aikikai telah siap dipublikasikan dan digunakan untuk komunitas aikido khususnya yang berafiliasi dengan Yayasan / Perguruan Indonesia Aikikai.

Dengan demikian maka mulai hari praktisi dan pencinta seni bela diri aikido mempunyai sarana komunikasi dan informasi yang bisa diandalkan sesuai dengan tuntutan kehidupan masa kini yang mana diharapkan terjadi interaksi yang positif untuk perkembangan Indonesia Aikikai.

Situs Indonesia Aikikai masih belum sempurna dan kami selalu mengundang saran dan kritik yang membangun untuk kemajuan bersama. Namun demikian Saya ingin menyampaikan penghargaan dan mengucapkan terima kasih atas dukungan, saran dan kontribusi dari Badan Pembina, Badan Pengurus dan Badan Pengawas Indonesia Aikikai, Komite Dewan Guru dan Sekretaris Jenderal Perguruan Indonesia Aikikai yang telah bekerja secara profesional untuk mewujudkan situs ini.

 (Witjaksono Abadiman Sidharta)

Langganan Info

Info Indonesia Aikikai


Terima HTML?
Bergabung untuk menerima info reguler dari YIA

Advertisement
Saat ini ada 76 tamu online
Advertisement

Kunjungan