|
Halaman 4 dari 6
Sokaku Takeda dan Onisaburo Deguchi
Kepada Sokaku Takeda-lah, Ueshiba terakhir belajar ilmu bela diri Jujutsu. Ueshiba datang ke Engaru ketika didengarnya ada guru Jujutsu hebat di sana. Melalui referensi temannya yang juga keranjingan ilmu bela diri, Yoshida Kotaro, Ueshiba bertemu Sokaku Takeda di penginapan Hisada. Sebenarnya Sokaku hanya menerima murid dari kalangan para bangsawan, politisi, jaksa, polisi ataupun anggota militer. Ueshiba ia terima sebagai murid karena kesungguhan hati dan penampakan fisiknya yang mengesankan.
Ueshiba tinggal di penginapan Hisada mulai bulan April 1915 dan selama berbulan-bulan Ia belajar bersama Sokaku Takeda. Rupanya Ueshiba amat berbakat. Ueshiba harus membayar 300 hingga 500 Yen untuk tiap teknik Daito-ryu yang secara privat diajarkan kepadanya. Ia memperoleh Hiden Mukoroku, sertifikat yang menyatakan bahwa Ia telah berhasil menguasai 118 teknik dasar Daito-ryu. Akhirnya, Ueshiba pulang ke Shirataki dan ia membangun sebuah dojo pribadi. Ia mengundang Sokaku Takeda untuk hidup di sana. Pada Tahun 1917 Ueshiba mulai menyertai Sokaku Takeda untuk mengajar ke berbagai tempat dan Ia memulangkan
keluarganya ke Tanabe karena cuaca di Shirataki amatlah dingin.
Pada tahun 1919, Ueshiba mendengar kabar bahwa ayahnya sakit keras. Ueshiba pulang ke Tanabe setelah menyerahkan tanah miliknya kepada gurunya, Sokaku. Dalam perjalanannya pulang, Ia singgah di Ayabe untuk menemui pendeta agama sekte Omoto-kyo, Onisaburo Deguchi (1871 - 1948). Ia minta sang pendeta mendoakan kesembuhan dan keselamatan ayahnya. Namun sang pendeta berkata," Ayahmu lebih baik mendapat tempat yang lebih layak".
Sesampai di Tanabe, Ia terlambat. Ayahnya telah meninggal. Ayahnya telah mendapatkan "tempat yang lebih layak" seperti yang dikatakan oleh Deguchi. Batinnya amat terguncang. Akhirnya ia jual barang-barang miliknya dan ia bersama keluarganya datang ke Ayabe untuk belajar agama sekte Omoto-kyo.
Omoto-kyo adalah salah satu sekte Shinto yang ajaran utamanya tentang "Pengajaran asal muasal dari segala sesuatu". Ajaran sekte ini merupakan sinkretisme (perpaduan) antara mitologi-mitologi Shinto, Shamanisme, meditasi pernafasan dan pemujaan.
Ueshiba dan keluarganya menyewa sebuah rumah dekat kuil Omoto-kyo pada tahun 1920. Tahun-tahun ini merupakan tahun yang penuh cobaan bagi Ueshiba. Kedua anaknya, Takamosi dan Kuniji yang baru berumur tiga dan satu tahun meninggal dunia karena serangan virus. Kematian mereka membuat Ueshiba semakin tenggelam dalam kehidupan spiritualnya. Kisshomaru, satu-satunya
anaknya yang bertahan hidup, lahir pada tahun 1921.
Onisaburo Deguchi mengerti bahwa takdir Ueshiba adalah "jalan bela diri" (Budo). Secara pribadi Deguchi sendiri orang yang benci dan anti kekerasan. Ia berpendapat bahwa pasukan perang dan perang itu sendiri adalah alat bagi para tuan tanah dan para kapitalis untuk mengeruk keuntungan. Tiada satupun di dunia ini yang lebih berbahaya selain perang dan tak satupun orang yang lebih dungu dari pada para prajurit. Alasan kenapa Ia menerima Ueshiba menjadi murid spiritualnya walaupun Ueshiba adalah seorang Budoka adalah karena Ia percaya bahwa tujuan hidup Ueshiba adalah mengajarkan makna sejati "jalan bela diri" (Budo); yaitu mengakhiri semua bentuk perseteruan dan perselisihan. Karena itu Ia mengijinkan Ueshiba untuk mendirikan dojo sebagai tempat berlatih bela diri di Ayabe. Di sinilah Ueshiba menggabungkan dan mengajarkan seni bela diri yang dipadu dengan ritual
agama sekte Omoto-kyo, dalam dojonya yang diberi nama Ueshiba Juku.
Ueshiba mengundang Sokaku Takeda ke Ayabe, dan gurunya tinggal di sana selama enam bulan pada tahun 1922. Sokaku memberi lisensi kepada Ueshiba sebagai instruktur bela diri (Sihan-Dai) Aikijutsu Daito-ryu. Sebenarnya Ueshiba belum pernah mendapat sertifikat penguasaan ilmu secara komplit (Soden Mukoroku) dari Sokaku Takeda. Namun begitu ketika Sokaku baru membuka mata
terhadap makna sejati Budo, Ueshiba telah mendapat pencerahan makna sejati Budo melalui Omoto-kyo.
Onisaburo Deguchi menyarankan Ueshiba supaya meninggalkan tradisi Daito-ryu dan memulai gaya aliran bela dirinya sendiri, karena Deguchi berpendapat bahwa tradisi Daito-ryu terlalu keras dan cenderung sebagai ilmu berkelahi (combat oriented), sehingga tidak bisa dijadikan sarana sebagai keselarasan hidup dengan sesama manusia. Walaupun kemudian Ueshiba mencari Budo idealnya sendiri, Ia tetap berhubungan dengan Sokaku hingga gurunya itu meninggal pada tahun 1943. Selama rentang waktu itu Ueshiba tetap memberikan uang kepada Sokaku Takeda sebagi pengganti materi teknik yang diberikan kepadanya, bahkan sampai ketika Ueshiba mebuka dojo bela diri alirannya sendiri di Tokyo. Ueshiba memperlakukan guru yang sangat berpengaruh bagi dirinya itu dengan sangat hormat.
Pada tahun 1925, seorang guru Kendo datang ke Ayabe untuk membuktikan reputasi Ueshiba yang mulai menyebar keluar dari Ayabe sebagai Budoka terkenal saat itu. Tantangan guru kendo itu diterima oleh Ueshiba. Dengan mengandalkan indera keenamnya Ueshiba menghindari setiap tebasan samurai guru kendo itu. Seolah-olah ia telah melihat lintasan samurai sebelum diayunkan untuk
menyerangnya. Sang guru kendo akhirnya menyerah kecapekan karena setiap kali menyerang, serangannya tidak pernah berhasil mencapai sasaran. Sesudah itu, Ueshiba keluar dari dojonya untuk beristirahat di sebuah taman. Tiba-tiba ia merasa seolah sedang bermandikan cahaya langit. Bumi tempatnya berpijak seolah bergetar dan berubah menjadi emas serta merasuki dirinya. Ia merasa bertransformasi menjadi makhluk emas dimana batas antara alam spiritual dam materi berpadu. Tiba-tiba Ia seperti mengerti apa yang diucapkan burung-burung, tanaman dan batuan di sekitarnya. Air matanya menetes. Ia mendapat pencerahan, " Aku adalah alam semesta". Ia mengerti bahwa ruh bela diri adalah kedamaian dan kasih sayang. Makna sejati Budo adalah untuk mengakhiri dan menghentikan perang serta konflik. Pada waktu itu Ueshiba mencapai umur 42 tahun.
Di tahun 1925 - 1926 Ueshiba mengajar bela diri di Tokyo atas permintaan Admiral Isamu Takeshita. Ia mengajar teknik Aiki, teknik keselarasan energi spiritual dan raga. Dalam pengajaranya, energi Ki adalah eneri yang tidak pernah hilang, tidak berwarna, tidak berbentuk dan tidak bergantung kepada sesuatu. Aiki adalah penisbatan pamungkas terhadap konsep bahwa pikiran menguasai dan
mengendalikan materi (jasad).
|