|
Halaman 2 dari 6
Bakat dan kekuatan Ueshiba mulai terlihat ketika Ia diterjunkan ke Manchuria, selama perang Jepang-Rusia pecah pada tahun 1904 - 1905. Reputasinya terkenal sebagai pemain bayonet yang luar biasa dalam resimennya. Ia juga mempunyai kemampuan lebih untuk mengantisipasi serangan yang datang, bahkan konon ia mampu menghindari peluru yang ditembakkan ke arahnya. Karena reputasinya ini, ia direkomendasikan untuk bergabung secara tetap pada dinas militer Jepang. Ia menolak. Selama empat tahun kemudian Ia ditempatkan di Osaka.
Selama karirnya di kemiliteran Ueshiba benar-benar melatih kondisi fisiknya. Ia memperoleh Menkyo, sertifikat mengajar bela diri, dari guru bela diri Jujutsu aliran Yagyu-ryu di Osaka, yakni Makasatsu Nakai.
Setelah selesai masa pengabdiannya pada wajib militer, Ueshiba pulang ke Tanabe untuk hidup bersama keluarganya. Namun begitu, Ueshiba adalah orang yang tidak bisa diam dan berpangku tangan. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang harus dilepaskan atau dilakukan. Kadang-kadang ia mengurung diri dalam kamar untuk meditasi, melakukan Misogi (penyucian jiwa) di bawah air terjun atau pergi ke sebuah gunung untuk berpuasa dan berkontemplasi selama berhari-hari. Yoroku sang ibu merasa prihatin dengan keadaan anaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengundang seorang guru Jujutsu terkenal, Takaki Kiyoichi, dan
membuatkan dojo untuk Ueshiba. Berbulan-bulan kemudian, Ueshiba tenggelam dalam latihan kerasnya.
Dalam rentang waktu ini, Ueshiba terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Minakata Kumagusu, politikus lokal yang saat itu sedang menentang keras rencana pemerintah untuk menyatukan kuil-kuil Shinto kecil di bawah pengawasan kuil Shinto yang lebih besar dan kuat. Alasannya, perasaan dan kepentingan jemaat kuil Shinto llokal akan terabaikan. Ueshiba mendukung sikap Kumagusu dengan cara menulis surat-surat protes ke beberapa surat kabar secara aktif dan mengorganisasi demonstrasi. Berangkat dari momen ini, perhatian politik Ueshiba mulai tumbuh. Ketika pemerintah membutuhkan sukarelawan untuk mengelola tanah tak bertuan di
Hokkaido, Kumagusu mendorong Ueshiba untuk mengambil kesempatan tersebut. Akhirnya, Ueshiba bersama istrinya berangkat ke Hokkaido untuk memimpin sekelompok transmigran pada tahun 1912.
Kelompok Ueshiba ditempatkan di Shirataki, sebuah sektor di utara Hokkaido. Mengelola tanah di sana amatlah berat, sebab membuka lahan pertanahan pada tanah yang baru saja dibuka lahannya sangat sulit. Perbekalan makanan serta tempat berteduh sangat minim. Selama bertahun-tahun pertanian di Shirataki tidak membuahkan hasil yang memuaskan kalau tidak bisa dibilang gagal. Namun begitu, rupanya berkah Tuhan tidak pada hasil pertanian. Balok-balok kayu sebagai hasil pembukaan lahan menjadi penghidupan baru bagi masyarakat Shirataki. Dibawah panduan Ueshiba, orang-orang Shirataki berusaha menjual balok-balok kayu tersebut untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan hidup yang lain. Tiga tahun kemudian kehidupan di Shirataki mulai stabil.
Hokkaido sendiri merupakan momen yang paling penting dalam sejarah Aikido. Di sinilah Ueshiba bertemu dengan Sokaku Takeda, guru bela diri Jujutsu aliran Daito-ryu yang dikenal dengan gaya Aikijutsu, yang dikemudian hari menjadi fondasi utama Aikido.
|